Disekitar kita
banyak sekali fenomena dan problem-problem sosial, seringkali ketika berhadapan
dengan berbagai masalah sosial kita sulit untuk mengurai latar belakang
masalah, pengaruh kepentingan serta implikasi logis yang mungkin muncul.
Kesulitan memahami kaitan masalah sosial disebabkan karena keterbatasan
kemampuan dalam memetakan variable yang saling mempengaruhi. Untuk itu,
diperlukan kecerdasan dalam melakukan analisis sosial agar mampu membaca dan
memahami realitas sosial secara utuh. Organisasi mahasiswa, adalah bagian dari
kehidupan sosial, senantiasa bersinggungan dengan realitas sosial, atau salah
dalam memahaminya, maka perubahan sosial yang dilakukan tidak akan efektif,
bahkan jauh dari sasaran.
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Analisis Sosial
Disekitar kita
banyak sekali fenomena dan problem-problem sosial, seringkali ketika berhadapan
dengan berbagai masalah sosial kita sulit untuk mengurai latar belakang
masalah, pengaruh kepentingan serta implikasi logis yang mungkin muncul.
Kesulitan memahami kaitan masalah sosial disebabkan karena keterbatasan
kemampuan dalam memetakan variable yang saling mempengaruhi. Untuk itu,
diperlukan kecerdasan dalam melakukan analisis sosial agar mampu membaca dan
memahami realitas sosial secara utuh. Organisasi mahasiswa, adalah bagian dari
kehidupan sosial, senantiasa bersinggungan dengan realitas sosial, atau salah
dalam memahaminya, maka perubahan sosial yang dilakukan tidak akan efektif,
bahkan jauh dari sasaran.PERTUKARAN SOSIAL
Pertukaran sosial diantara tokoh-tokoh yang mengembangkan teori ini antara lain adalah psikolog John Thibaut dan Harlod Kelley (1959), sosiolog George Homans (1961),Richard Emerson (1962), dan Peter Blau (1964). Berdasarkan teori ini, kita masuk kedalam hubungan pertukaran dengan orang lain karena dari padanya kita memperolehimbalan. Dengan kata lain hubungan pertukaran dengan orang lain akan menghasilkan suatu imbalan bagi kita. Seperti halnya teori pembelajaran sosial, teori pertukaran sosialpun melihat antara perilaku dengan lingkungan terdapat hubungan yang saling mempengaruhi (reciprocal). Karena lingkungan kita umumnya terdiri atas orang-orang lain, maka kita dan orang-orang lain tersebut dipandang mempunyai perilaku yang saling mempengaruhi Dalam hubungan tersebut terdapat unsur imbalan (reward), pengorbanan (cost) dan keuntungan (profit). Imbalan merupakan segala hal yang diperloleh melalui adanya pengorbanan, pengorbanan merupakan semua hal yang dihindarkan, keuntungan adalah imbalan dikurangi oleh pengorbanan. Jadi perilaku sosial terdiri atas pertukaran paling sedikit antar dua orang berdasarkan perhitungan untung-rugi. Misalnya,pola-pola perilaku di tempat kerja, percintaan, perkawinan, persahabatan – hanya akan langgeng manakala kalau semua pihak yang terlibat merasa teruntungkan. Jadi perilaku seseorang dimunculkan karena berdasarkan perhitungannya, akan menguntungkan bagidirinya, demikian pula sebaliknya jika merugikan maka perilaku tersebut tidak ditampilkan.
Pertukaran sosial adalah teori dalam ilmu sosial yang menyatakan bahwa dalam hubungan sosial terdapat unsur ganjaran, pengorbanan, dan keuntungan yang saling memengaruhi. Teori ini menjelaskan bagaimana manusia memandang tentang hubungan kita dengan orang lain sesuai dengan anggapan diri manusia tersebut terhadap:
- Keseimbangan antara apa yang di berikan ke dalam hubungan dan apa yang dikeluarkan dari hubungan itu.
- Jenis hubungan yang dilakukan.
- Kesempatan memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain
- Munculnya teori pertukaran sosial
Pada umumnya,hubungan sosial terdiri daripada masyarakat, maka kita dan masyarakat lain di lihat mempunyai perilaku yang saling memengaruhi dalam hubungan tersebut,yang terdapat unsur ganjaran , pengorbanan dan keuntungan . Ganjaran merupakan segala hal yang diperolehi melalui adanya pengorbanan,manakala pengorbanan merupakan semua hal yang dihindarkan, dan keuntungan adalah ganjaran dikurangi oleh pengorbanan. Jadi perilaku sosial terdiri atas pertukaran paling sedikit antara dua orang berdasarkan perhitungan untung-rugi. Misalnya, pola-pola perilaku di tempat kerja, percintaan, perkawinan,dan persahabatan.
Analogi dari hal tersebut, pada suatu ketika anda merasa bahwa setiap teman anda yang di satu kelas selalu berusaha memperoleh sesuatu dari anda. Pada saat tersebut anda selalu memberikan apa yang teman anda butuhkan dari anda, akan tetapi hal sebaliknya justru terjadi ketika anda membutuhkan sesuatu dari teman anda. Setiap individu menjalin pertemanan tentunya mempunyai tujuan untuk saling memperhatikan satu sama lain. Individu tersebut pasti diharapkan untuk berbuat sesuatu bagi sesamanya, saling membantu jikalau dibutuhkan, dan saling memberikan dukungan dikala sedih. Akan tetapi mempertahankan hubungan persahabatan itu juga membutuhkan biaya (cost) tertentu, seperti hilang waktu dan energi serta kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak jadi dilaksanakan. Meskipun biaya-biaya ini tidak dilihat sebagai sesuatu hal yang mahal atau membebani ketika dipandang dari sudut penghargaan (reward) yang didapatkan dari persahabatan tersebut. namun, biaya tersebut harus dipertimbangkan apabila kita menganalisa secara obyektif hubungan-hubungan transaksi yang ada dalam persahabatan. Apabila biaya yang dikeluarkan terlihat tidak sesuai dengan imbalannya, yang terjadi justru perasaan tidak enak di pihak yang merasa bahwa imbalan yang diterima itu terlalu rendah dibandingkan dengan biaya atau pengorbanan yang sudah diberikan.
Analisa mengenai hubungan sosial yang terjadi menurut cost and reward ini merupakan salah satu ciri khas teori pertukaran. Teori pertukaran ini memusatkan perhatiannya pada tingkat analisa mikro, khususnya pada tingkat kenyataan sosial antarpribadi (interpersonal). Pada pembahasan ini akan ditekankan pada pemikiran teori pertukaran oleh Homans dan Blau. Homans dalam analisanya berpegang pada keharusan menggunakan prinsip-prinsip psikologi individu untuk menjelaskan perilaku sosial daripada hanya sekedar menggambarkannya. Akan tetapi Blau di lain pihak berusaha beranjak dari tingkat pertukaran antarpribadi di tingkat mikro, ke tingkat yang lebih makro yaitu struktur sosial. Ia berusaha untuk menunjukkan bagaimana struktur sosial yang lebih besar itu muncul dari proses-proses pertukaran dasar.
Berbeda dengan analisa yang diungkapkan oleh teori interaksi simbolik, teori pertukaran ini terutama melihat perilaku nyata, bukan proses-proses yang bersifat subyektif semata. Hal ini juga dianut oleh Homans dan Blau yang tidak memusatkan perhatiannya pada tingkat kesadaran subyektif atau hubungan-hubungan timbal balik yang bersifat dinamis antara tingkat subyektif dan interaksi nyata seperti yang diterjadi pada interaksionisme simbolik. Homans lebih jauh berpendapat bahwa penjelasan ilmiah harus dipusatkan pada perilaku nyata yang dapat diamati dan diukur secara empirik. Proses pertukaran sosial ini juga telah diungkapkan oleh para ahli sosial klasik. Seperti yang diungkapkan dalam teori ekonomi klasik abad ke-18 dan 19, para ahli ekonomi seperti Adam Smith sudah menganalisa pasar ekonomi sebagai hasil dari kumpulan yang menyeluruh dari sejumlah transaksi ekonomi individual yang tidak dapat dilihat besarnya. Ia mengasumsikan bahwa transaksi-transaksi pertukuran akan terjadi hanya apabila kedua pihak dapat memperoleh keuntungan dari pertukaran tersebut, dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya dapat dengan baik sekali dijamin apabila individu-individu dibiarkan untuk mengejar kepentingan pribadinya melalui pertukaran-pertukaran yang dinegosiasikan secara pribadi.
Pertukaran Sosial; Penggunaan Dalam Kehidupan
Pertukaran Sosial; Penggunaan Dalam Kehidupan
Thibaut dan Kelley adalah psikoanalist yang berkonsentrasi pada bidang psikologi sosial khususnya interpersonal relationship atau hubungan antar personal. Pada tahun 1959 mereka membuat buku yang berjudul The Social Psychology of Groups. Ada 4 elemen dalam teori ini yang digunakan dalam menganalisa suatu hubungan yaitu, Rewards, Costs, Outcome, dan Comparison Level.
Rewards adalah elemen positif yang berguna meningkatkan nilai positif dalam sebuah hubungan. Contohnya ialah tingkah laku yang positif seperti menghargai, mendengarkan, memuji, dll. Sedangkan Costs ialah elemen negative yang bisa jadi dapat meretakkan hubungan. Seperti halnya dalam teori ekonomi, Cost merupakan biaya yang telah dikeluarkan untuk sesuatu, dan bisa disebut juga Rugi. Contohnya ialah segala tingkah laku yang kurang menyenangkan seperti hal-hal yang memalukan, tidak menghargai, dll. Waktu dan usaha kita dalam menemui dan mendengarkan pasangan pun termasuk ke dalam cost.
Outcome ialah penggabungan nilai antara rewards dan costs. Misal nilai rewards lebih tinggi dari pada nilai costs (R > C), berarti outcome yang dihasilkan bagus. Itu artinya hubungan yang dijalankan cukup baik. Namun jika nilai rewards lebih rendah dari pada nilai costs (R < C), berarti outcome yang dihasilkan tidak begitu tinggi. Itu artinya hubungan yang dijalankan kurang bagus.
Lalu, Comparison Level. Elemen ialah standar komparasi (parameter) hubungan yang tengah kita jalani dengan hubungan kita yang lain sebagai pembanding. Elemen ini terbagi lagi atas 2 hal, yakni, Comparison Level (CL) dan Comparison Level for Alternative (CL alt). Dalam bukunya Thibaut dan Kelley menyatakan;
“In evaluating the adequacy of the sampled and anticipated outcomes of a relationship, the members of a dyad will have need for some kind of standard or criterion of the acceptability of outcomes. At least two important kind of standard for such an evaluation can be identified. To try to make the distinction between these two standards as intuitively clear as possible, we may begin by saying that the first of these, called the comparison level (or CL), is the standard against which the member evaluates the “attractiveness” of the relationship or how satisfactory it is. The second, called the comparison level for alternative (or CL alt), is the standard the member uses in deciding whether to remain in or to leave the relationship.” (Thibaut & Kelley 1959, 21)
Maksudnya ialah, CL digunakan untuk menganalisa seberapa tinggi kepuasan kita terhadap hubungan kita saat ini. Yang digunakan sebagai pembanding ialah hubungan kita di masa lalu (sebelum kita menjalin hubungan dengan teman kita saat ini). Misal, A dan B menjalin hubungan saat ini. Sebelumnya A dan B memiliki hubungan dengan orang lain. Maka, sebelumnya A dan B memiliki standar hubungan sendiri dalam mengharapkan dan menilai hubungannya sekarang. Jika hubungan A dan B dengan pasangan lain di masa lalu cukup baik, maka setidaknya mereka telah memiliki standar hubungan yang baik. Jika hubungan yang sekarang ini (antara A dan B) dirasa kurang baik, maka ada ketidakpuasan yang dirasakan mereka dalam hubungan ini. Namun jika hubungan yang sekarang lebih baik, maka itu melampaui standar nilai mereka. Dan mereka (A dan B) merasakan kepuasan, bahkan ini bisa dijadikan standar baru bagi mereka jika suatu ketika akan menjalani hubungan baru.
Sedang CL alt ialah komparasi hubungan dengan hubungan yang dimiliki dyad lainnya. Ini bisa menjadi sebuah pertimbangan apakah hubungan tersebut masih bisa dipertahankan atau tidak (lihat kembali kutipan diatas). Misal, kembali ke hubungan A dan B. Masing-masing dari A dan B tentu memiliki hubungan dengan orang lain di luar hubungan mereka sekarang ini, A dan C atau B dan D. Jika hubungan dengan orang lain itu ternyata lebih baik dan lebih memuaskan dari hubungan mereka yang sekarang (A dan B) bisa jadi hubungan mereka retak.
Dan untuk mengetahui seperti apa hubungan anda, terdapat 6 tipe hubungan dibawah ini;
Six Typologies of Relationship
Relative Value of Outcome, CL, and CL alt
|
State of the relationship
|
Outcome > CL > CL alt
|
Satisfactory, stable, and interdependence
|
Outcome > CL alt > CL
|
Satisfactory, stable, and,
Independence
|
CL alt > CL > Outcome
|
Unsatisfactory, broken, and love to stay in other relationship
|
CL alt > Outcome > CL
|
Satisfactory, unstable, and feel better to stay in other relationship
|
CL > CL alt > Outcome
|
Unsatisfactory, broken
|
CL > Outcome > CL alt
|
More unsatisfactory but gratify, interdependence, and cannot broken
|
CL : Comparison Level
CL alt : Comparison Level for Alternatives
Pertentangan teori pertukaran sosial individualistis dan kolektivistis
Pertentangan yang terjadi ini merupakan akibat dari tumbuhnya pertentangan antara orientasi individualistis dan kolektisvistis. Homans mungkin merupakan seseorang yang sangat menekankan pada pendekatan individualistis terhadap perkembangan teori sosial. Hal ini tentunya berbeda dengan penjelasan Levi-Strauss yang bersifat kolektivistis khususnya mengenai perkawinan dan pola-pola kekerabatan.
Levi-Strauss merupakan seorang ahli antropologi yang berasal dari Prancis, ia mengembangkan suatu perspektif teoritis mengenai pertukaran sosial dalam analisannya mengenai praktik perkawinan dan sistem kekerabatan masyarakat-masyarakat primitif.Suatu pola umum yang dianalisanya adalah seorang pria mengawini putri saudara ibunya. Suatu pola yang jarang terjadi adalah orang mengawini putri saudara bapaknya. Pola yang terakhir ini dianalisa lebih lanjut oleh lanjut oleh Bronislaw Malinowski dengan pertukaran nonmaterial.
Dalam menjelaskan hal ini Levi-Strauss membedakan dua sistem pertukaran yaitu restricted exchange dan generalized exchange. Pada restricted exchange, para anggota kelompok dyad terlibat dalam transaksi pertukaran langsung, masing-masing anggota pasangan tersebut saling memberikan dengan dasar pribadi. Sedangkan pada generalized exchange, anggota-anggota suatu kelompok triad atau yang lebih besar lagi, menerima sesuatu dari seorang pasangan lain dari orang yang dia berikan sesuatu yang berguna.Dalam pertukaran ini memberikan dampak pada integrasi dan solidaritas kelompok-kelompok yang lebih besar dengan cara yang lebih efektif. Tujuan utama proses pertukaran ini adalah tidak untuk memungkinkan pasangan-pasangan yang terlibat dalam pertukaran itu untuk memenuhi kebutuhan individualistisnya. Akan tetapi untuk mengungkapkan komitmen moral individu tersebut kepada kelompok. Analisa mengenai perkawinan dan perilaku kekerabatan ini merupakan sebuah kritikan terhadap penjelasan Sir James Frazer seorang ahli Antropologi Inggris yang bersifat ekonomis mengenai pola-pola pertukaran yang terjadi antara pasangan perkawinan dalam masyrakat primitif.
Kekuatan:
Pertukaran Sosial dapat digunakan untuk mempelajari interaksi di spektrum yang luas dari hubungan romantis untuk hubungan kerja dalam organisasi. Pertama dijelaskan oleh Homans pada tahun 1958, itu tetap merupakan teori yang relevan yang terus menghasilkan penelitian baru.
Pertukaran Sosial dapat digunakan untuk mempelajari interaksi di spektrum yang luas dari hubungan romantis untuk hubungan kerja dalam organisasi. Pertama dijelaskan oleh Homans pada tahun 1958, itu tetap merupakan teori yang relevan yang terus menghasilkan penelitian baru.
Kelemahan:
Salah satu kelemahan dari teori ini adalah bahwa ia melihat interaksi manusia hanya sebagai proses rasional, dengan fokus pada formula ekonomi. Para kritikus berpendapat bahwa karena Pertukaran Sosial berfokus pada hadiah untuk biaya keseimbangan itu tidak menjelaskan alasan lain di balik bursa tertentu. Beberapa juga tantangan apakah manusia benar-benar mengambil waktu untuk berpikir tentang imbalan dan biaya saat memiliki dan pertukaran atau membentuk hubungan (Turner & West, 2007).
Karl Marx; Filsafat, Agama dan Sosial.
Sebelum kita masuk alam pemikiran karl marx ada baiknya kita melihat arti sebenarnya beberapa istilah yang sering tercampur aukan dan kemudian menciptakan kebingungan.
Marxisme tiak sama dengan komunisme atau komunisme internasional. Komunisme adalah gerakan dan kekuatan politik partai-partai politik yang sejak revolusi oktober 1917 dibawah pimpinan Lenin menjadi kekuatan politis dan ideologis internasional. Kaum komunis selalu mengklaim monopoli atas intrepretasi ajaran mark. Istilah marxisme sendiri adalah sebutan bagi pembakuan ajaran resmi Karl Marx yang terutama dilakuakan oleh temannya Friedrich Engels dan oleh teori marxis Karl Kautskzy.
Kita dapat merangkum bahwa melalui beragam pemikirannya, Marx mencapai ajarannya yang resmi yang dengan persetujuannya terutama oleh Engels dibakukan menjadi Marxisme yang kemudian lebih dibakukan atau didogmakan oleh Lenin menjadi komponen dalam Marxisme-Lenisme ideologi kaum komunis.1
A.Riwayat Karl Marx
Karl Marx lahir di Trier, sebuah kota di Jerman, dekat perbatasan dengan Prancis di tahun 1818. lahir setelah perang Napoleon, dan setahun setelah David Ricardo meluncurkan bukunya “The Principles of Political Economy”. Dia merupakan pendiri Idiologi komunis yang sekaligus merupakan seorang teoritikus besar kapitalisme. Bukan hanya sekedar ekonom, namun juga seorang philosopis, sosiologis, dan seorang revolusionir. Merupakan seorang profesor dalam berbagai ide yang Revolusioner, yang menginspirasi pemikir-pemikir lainnya. Setelah menyelesaikan gelar Ph. D dalam filsafat pada tahun 1841 di Bonn, Berlin, dan Jena. Maka dari sinilah karier Marx dimulai. Pemikiran Karl Marx merupakan adopsi antara filsafat Hegel, French, dan tentunya pemikiran dari David Ricardo (pemikir teori ekonom klasik). Analisa Karl Marx tentang kapitalisme merupakan aplikasi dari teori yang dikembangkan oleh G.W.F Hegel, dimana teorinya berpendapat juka,”sejarah berproses melalui serangkaian situasi dimana sebuah ide yang diterima akan eksis, tesis. Namun segea akan berkontradiksi dengan oposisinya, antitesis. Yang kemudian melahirkanlah antitesis, kejadian ini akan terus berulang, sehingga konflik-konflik tersebut akan meniadakan segala hal yang berproses menjdai lebih baik.” 1
Entah karena lebih tertarik, Marx menceburkan diri ke dunia jurnalistik dan sebentar menjadi redaktur Rheinische Zeitung di Cologne. Tapi, pandangan politiknya yang radikal menyeretnya ke dalam rupa-rupa kesulitan dan memaksanya pindah ke Paris. Di situlah dia mula pertama bertemu dengan Friederich Engels. Tali persahabatan dan persamaan pandangan politik mengikat kedua orang ini selaku dwi tunggal hingga akhir hayatnya.
Marx tak bisa lama tinggal di Paris dan segera ditendang dari sana dan mesti menjinjing koper pindah ke Brussel. Di kota inilah, tahun 1847 dia pertama kali menerbitkan buah pikirannya yang penting dan besar The poverty of philosophy (Kemiskinan filsafat). Tahun berikutnya bersama bergandeng tangan dengan Friederich Engels mereka menerbitkan Communist Manifesto, buku yang akhirnya menjadi bacaan dunia. Pada tahun itu juga Marx kembali ke Cologne untuk kemudian diusir lagi dari sana hanya selang beberapa bulan. Sehabis terusir sana terusir sini, akhirnya Marx menyeberang Selat Canal dan menetap di London hingga akhir hayatnya.
Meskipun ada hanya sedikit uang di koceknya berkat pekerjaan jurnalistik, Marx menghabiskan sejumlah besar waktunya di London melakukan penyelidikan dan menulis buku-buku tentang politik dan ekonomi. (Di tahun-tahun itu Marx dan familinya dapat bantuan ongkos hidup dari Friederich Engels kawan karibnya). Jilid pertama Das Kapital, karya ilmiah Marx terpenting terbit di tahun 1867. Tatkala Marx meninggal di tahun 1883, kedua jilid sambungannya belum sepenuhnya rampung. Kedua jilid sambungannya itu disusun dan diterbitkan oIeh Engels berpegang pada catatan-catatan dan naskah yang ditinggalkan Marx.2
B.Kritik agama Karl Marx
Melawan filsafat Hegel tentang roh semesta sebagai hakikat yang sebenarnya dari dunia pengalaman kita sehari-hari, Feuerbach menenmpatkan kepastian indrawi : realita yang nyata dan dasar ialah realita yang kita tangkap melalui pancaindera, yang kita lihat, kita pegang, kita dengar, dengan inderawi manusi sebagai pusatnya.3
Inti kritikan agama Feuerbach ialah bahwa bukanlah Tuhan yang menciptakan dunia dan manusia, melainkan Tuhan adalah ciptaan angan-angan manusia. Agama adalah proyeksi manusia, Tuhan, setan, malaikat,surga , neraka tidak mempunyai kenyataan pada dirinya sendiri melainkan hanya merupakan gambar-gambar yang dibentuk manusia tentang dirinya sendiri, cerminan isi hati manusia yang kemudian diproyeksikan melalui daya khayal ke alam surga angan-angan saja.
Isi-isi agama sebenarnya hanyalah realita manusia itu sendiri yang diproyeksikan. Tetapi karena manusia sendiri tidak memahami bahwa agama itu sebenarnya hanya hakikat manusia sendiri maka dalam agama hakikat manusia diasingkan daripadanya. Agama adalah tanda keterasingan manusia pada dirinya sendiri. Pandangan Feuerbach ini berdasarkan suatu anggapan tentang bagaimana manusia menjadi diri sendiri, yang diterimanya dari Hegel; untuk menjadi diri sendiri manusia harus menjadi objek bagi dirinya sendiri. Jadi ia harus mengobjektif diri dengan memproyeksikan diri keluar dari dirinya sendiri supaya dapat menghadap dan melihat hakikatnya.seperti seorang seniman ia baru tahu bahwa ia adalah seniman apabila ia berhasil memproyeksikan bakat atau hakikatnya kedalam bentuk sebuah karya seni, kedalam sebuah alam objektif, misalnya sebuah lukisan. Dengan memandang objektifitas itulah manusia manusia mengetahui dirinyya sendiri.
Menurut Feuerbach itulah yang terjadi dalam agama. Agama bagi Feuerbach mempunyai nilai positif karena merupakan proyeksi hakikat manusia. Dalam agama manusia dapat melihat siapa dia, misalnya : dia berkuasa, kreatif, baik, berbelaskasihan, dapat saling menyelamatkan dan sebagainya. Manusia sangat terkesan dengan semua itu sehingga ia menganggapnya sebagai realitas yang mandiri. Mengingat proyeksi itu melukiskan hakikat manusia secara sempurna, dapat dimengerti bahwa manusia lalu menjadi takut dan menyembah realita agama yang sebenarnya tidak real.
Bagi Marx, Feuerbach menunjuk pada kesalahan dasar dalam filsafat hegel; filsafat hegel secara hakiki terbalik. Hegel membuat subjek menjadi objek dan objek menjadi subjek. Realitas pertama manusia bukanlah manusia tapi roh, padahal roh adalah hasil buah pikiran manusia.
Dapat dikatakan bahwa kritik agama Feuerbach menjadi titik tolak seluruh pemikiran Marx kemudian. Marx menulis: “Manusia yang membuat agama bukan agama yang membuat manusia”4. Agama adalah perealisaian hakikat manusia di dalam angan-angan, tanda keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Menarik kembali agama ke dalam diri sendiri manusia maka manusia akan menjadii mahluk yang kaya dan sanggup untuk membnagun dunia persaudaraan yang baru.
Tetapi menurut Karl marx, Feuerbach sendiri tidak cukup konsekuen. Seharusnya Feuerbach bertanya: mengapa manusia sampai mengasingkan diri ke dalam agama?. Feuerbach sendiri tidak terlalu buta terhadap pernyataan itu, Ia sendiri menulis :”Penderitaan manusia adalahh tempat kelahiran Allah”. Tetapi Feuerbach tidak meneruskan logika gagasan ini. Seharuusnya Feuerbach bertanya: mengapa manusia tidak merealisasikan hakikatnya secara nyata? Mengapa hanya secara semu dalam khayalan agama?
Maka kalau manusia merealisasikan diri secara semu, sebabnya mesti dicari dalam keadaan masyarakat. Manusia merealisasikan diri hanya dalam khayalan agama karena struktur masyarakat nyata tidak mengizinkan manusia untuk merealisasikan dengan sungguh-sungguh. Agama hanyalah sebuah pelarian karena realitas memaksa manusia untuk melarikan diri. “Agama adalah realisasi hakikat manusia dalam angan-angan karena hakikat manusia tidak mempunyai realitas yang sungguh-sungguh”. Jadi, “agama ialah ungkapan penderitaan yang sungguh-sungguh dan protes terrhadap agama yang sungguh-sungguh. Agama adalah keluhan mahluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman yang tanpa roh. Ia adalah candu rakyat.
C.Keterasingan manusia
Kita telah malihat bahwa keterasingan manusia dalam agama menunjukan suatu keterasinagan yang mendalam di dalam kehidupan masyarakat. Kita akan mencari jawaban pertanyaan: apakah yang sebenarnya menjadi dasar keterasingan manusia? Marx menjawab, bahwa dasar segala keterasinangan manusia terletak dalam keterasingan dalam pekerjaan.
1.Pekerjaan: sarana manusia untuk menciptakan diri sendiri
Keterasingan dalam pekerjaan adalah dasar segala keterasingan manusia, karena menurut Karl Marx, pekerjaan adalah tindakan manusia yang paling dasar: dalam pekerjaan manusia mmbuat dirinya menjadi nyata. Visa pekerjaan itu diperoleh dari Hegel. Dengan kagum Marx menulis: “Yang besar pada ‘fenomenologi’ Hegel ialah bahwa ia memahami hakikat pekerjaan serta mengerti manusia yang objektif, yang benar karena nyata, sebagai hasil pekerjaan sendiri”6
Tetapi pekerjaan itu lebih daripada hanya suatu alat untuk memenuhi kebutuhan manusia saja. Menurut Karl Marx pekerjaan adalah tindakan yang di dalamnya manusia merealisasikan dirinya sendiri. Untuk memahami maksud Marx, marilah kita ambil sebuah contoh seorang pengukir. Si pengukir mengambil sebatang kayu, kayunya pun dapat ditemukan dalam hutan, merupakan sebagian dari alam. Dalam mengukir ia memberikan bentuk yang baru. Ia mengambil daripadanya bentuk alamiah dulu dan memberikan kepadanya suatu bentuk yang sudah ada dalam kepalanya. Ukiran yang selesai mempunyai bentuk yang dikehendaki si pengukir.
Dengan demikian ukiran itu sekaligus memcermiinkan bagi si pengukir kecapan, kemampuan bahkan hakikatnya. Apa yang hanya ada didalam kepalanya menjadi objektiff7
Hal sama terjadi dalam setiap pekerjaan. Bekerja berarti bahwa manusia mengambil bentuk alamidari objek alami dan memberikan bentuknya snediri. Ia mengobjektivasiakn diri ke dalam alam melalui pekerjaannya. Manusia selalu melahirkan kekuatan hakikat ke dalam realitas hakikat manusia. Makna pekerjaan terrcermin dalam perasaan bangga keringat yang tercurah tidak berarti apapun ketika dihadapkan dengan realitas.
2.Keterasingan dalam pekerjaan
Dalam kenyataan bagi kebanyakan orang dan khusuunya bagi kaum buruh inustri dalam sistem kapitalisme, pekerjaan tidak merealisasikan hakikat mereka. Mengapa demikian? Karena dalam sitem kapitalisme, orang tidak bekerja secara bebas dan universal, melainkan semata-mata terpaksa, sebagai syarat untuk bisa hidup. Jadi pekerjaan tidak mengembang melainkan mengasingkan manusia , baik dari dirinya sendiri maupun orang lain
Keterasingan dari diri sendiri mempunyai 3 segi. Pertama pekerja merasa terasing dari produknya, hasil pekerjaan seharusnya menjadi sumber perasaan bangga, mencerminkan kecakapan kerja, karena produk pekerjaan merupakan objektivitas pekerjaan. Tetapi sebagai buruh opahan ia tidak memiliki hasil pekerjaanya. Produk adalah milik pabrik. Apalagi ia mengerjakan bagian kecil dari produk yang sudah jai, barangkali tak pernah dilihannya. Marx mengomentari: “Semakin si pekerja menghasilkan pekerjaan, semakin ia, dunia batinnya, menjai miski. (EPM, MEW EB 1,512)
Karena hasil pekerjaan asing baginya, tindakan bekerja itu sendiri pun kehilangan arti bagi si pekerja. Itulah segi kedua keterasingan dalam pekerjaan. Bukannya menjadi pelaksanaan hakikatnya yang bebas dan universal, pekerjaaan malah menjadi paksaan. Tetapi karena pekerjaan adalah tindakan hakiki manusia, maka dengan memperalat pekerjaanya semata-mat demi tujuan memperoleh nafkah, manusia memperalatkan dirinya sendiri. Inilah segi ketiga dari keterasingan.8 Alam pekerjaan, manusia tidak mengembangkan diri,melainkan memiskinkan diri. Seluruh waktunya terpusat pada stu-stunya saat dimana ia masih dapat menjadi irinya sendiri.
Tetapi kalau manusia terasingkan oleh hakikatnya, ia sekaligus terasing ari sesamanya. “Konsekuensi langsung dari keterasingan manusia dari produk pekerjaanya, dari kegiatan hidupnya, dari hakikatnya sebagai manusia, adalah keterasingan manusia dari manusia”. Tanda keterasingan itu adalah kekuasaan uang, “pelacuran umum, mak comblang manusia dan bangsa-bangsa”(EPM, MEW EB 1, 565). Manusia tidak lagi bertindak demi sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri atau demi kebituhan bersama, melainkan hanya sejauh tindakannya mengahsailkan uang. Semua dilihat dari segi harganya.
3.Hak milik pribadi
Bagaimana keterasingan manusia dapat dijadikan utuh kembali? Dalam naskah Paris, marx belum memberi jawaban yang analitis. Tetapi ia memulai merenungkan sebuah pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dahulu: mengapa sampai terjadi keterasinagn dalam pekerjaan.?
Kita melihat pekerjaan yang mengasingkan adalah pekerjaan upahan. Orang yang bekerja demi upad tidak bekerja demi pekerjaan, tidak demi pengembangang diri, melainkan bekerja karen aterpaksa. Untuk hidup ia harus mendapatkan uang, danuntuk mendapatkan uang ia harus bekerja sesuai kehendak majikan yang menawarkan pekerjaan. Maka baik pekerjaan itu sendiri maupun hasil pekerjaan yang didapat tidak ada sangkut pautnya dengan kepribadianya.
Tetapi pekerjaan upahan hanya sebagian dari hak milik pribadi atas alat-alat produksi. Sistem hak milik pribadi memisahkan antara pemilik dan pekerja, antara yang menguasia alat kerja dan yang menguasai tenaga kerja. Jadi keterasingan dalam pekerjaan adalah akibat langsung sistem hak pribadi.
Tetapi mengapa manusia mengorganisasikan proses produksi dalam sistem hak milik pribadi? Mengapa pekerjaan dan kepemilikan harus dipisahkan? Jawaban atas pertanyaan itu penting karena penghapusan hak milik pribaddi tergantung padanya. Menurut Marx, hak milik pribadi bukan hasil sebuah keputusan kebetulan, melainkan hasil sebuah proses yang tak terelakan, proses pembagian kerja. Pembagian kerja perlu untuk meningkatkan efiensi kelompok dalam melindungi diri dan menjamin kebutuhan-kebutuhannya. Tetapi masyarakat purba segera menyadari bahwa jauh lebih efisien kalau pekerjaan dibagi. Wanita yang secara alami mengandung, melahirkan dan menyusui anak, diberi pekerjaan di sekitar tempat tinggal kelompok, sedangkan pria berburu dan berperang. Dengan perpisahan antara pekerjaan jasmani dan rohani, pemisahan umat manusia ke dalam kelas-kelas pekerja dan kelas-kelas yang hidup dari pekerjaan jasmani orang lain semakin terwujud.
Maka Marx membedakan tiga tahap umat manusia. Tahap pertama adalah masyarakat purba sebelum pemabagian pekerjaan dimulai. Tahap kedua-yang masih belangsung-adalah tahap pembagian kerja sekaligus tahap pembagian hak milik pribadi dan tahap keterasingan. Tahap ketiga adalah tahap kebebasan, yaitu apabila hak milik pribadi sudah diihapus. Jadi sistem hak milik pribadi bukan sebuah “kecelakaan”, melainkan tahap yang pasti dalam perjalanan umat manusia ke tahap pembebasan.
D.Teori Kelas
Pada permulaan manifesto komunis terapat kalimat yang termashur: “Sejarah semua masyarakat yang ada hingga sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas”. Dengan demikian marx menolak pendapat bahwa orang-orang individual dengan kehendak individual mereka dapat menentukan arah sejarah. Dalam pendapat itu ada terkandung anggapan bahwa individu-individu itu tidak berdiri sendirian di dunia dan bertindak bertindak tidak melulu menurut cita-citanya serta tujuan-tujuan subjektifnya, melainkan bahwa mereka melakukan tindakan menyesuaikan diri dengan peranan yang diharapkan dari golongan mereka.9
Menurut Karl Marx pelaku-pelaku utama perubahan sosial bukanlah individu tertentu, melainkan kleas-kelas sosial. Karena kita hanya dapat memahami sejarah dengan segala perkembangan yang terjadi apabila kita memperhatikan kelas-kelas sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Akan terlihat bahwa dalam setiap masyarakat terdapat kelas-kelas yang berkuasa (kelas atas) dan kelas-kelas yang yang dikuasai (kelas bawah). Sebagai catatan perlu diperhatikan bahwa menurut Karl Marx masyarrakat kapitalis dibagi menjadi 3 kelas, bukan dua kelas sebagaimana anggapan pada umumnya. Tiga kelas itu adalah kaum buruh (mereka hidup dari upah), kaum pemilik modal (hidup dari laba), para tuan tanah (hidup dari rente tanah). Tetapi karena dalam analisis keterasingan tuan tanah tidak dibicarakan dan pada akhir kapitalisme para tuan tanah akan menjadi sama denagn para pemilik modal, maka berikut hannya dibicarakan dua kelas pertama.
Dalam teori keterasingan, keterasingan terjadi karena orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan jatuh dalam dua kelas sosial yang berlawanan, kelas buruh dan kelas majikan. Kelas majikan memiliki alat-alat produksi: pabrik, mesin dan tanah. Kelas buruh melakukan pekerjaan, tetapi karena mereka sendiri tidak memiliki tempat dan sarana kerja, mereka terpaksa menjual tenaga kerja mereka kepada kelas pemilik itu. Dengan demikian hasil kerja sendiri atau kegiatan bekerja bukan lagi milik para pekerja itu sendiri , melainkan milik para majikan.
Dengan demikian kelas pemilik adalah kelas yang kuat dan para pekerja adalah kelas yang lemah. Para pemilik dapat menetapkan syarat-syarat bagi mereka yang mau bekerja, dan bukan sebaliknya.jadi dalam hubungan produksi, yang berkuasa adalah pemilik, sedangkan yang dikuasai adalah para pekerja.
Hubungan antara kelas atas dan kelas bawah adalah hubungan kekuasaan. Kekuasaan itu dipakai untuk menindas keinginan buruh untuk mengusai pekerjaan mereka sendiri, untuk tidak dihisap, agar kaum buruh bekerja seluruhnya demi mereka.
Kepentingan dan Negara
Karena negara merupakan alat tangan kelas atas untuk mempertahankan penghisan terhadap kelas bawah, kita jangan menharapkan reformasi sosial dari negara. Apabila kita menyelidiki politik yang terjdi di berbagai negara maka kita akan menemukan bahwa yang dilayani selalu kaum kelas atas saja. Kalau sekali diadakan peebaikan sosial maka itu hanya untuk menenangkan hati rakyat dan untuk membelokan perhatiannya dari tuntutan-tuntutan perubahan yang lebih fudamental.
Ada beberapa unsur dalam teori kelas Karl Marx yang perlu diperhatikan. Pertama, tampak betapa besar peran segi struktural dibandingkan segi kesadaran dan moralitas. Pertentangan buruh dan majikan bersifat objektif karena berdasarkan kepentingan objektif yang ditentukan oleh kedua kedudukan mereka masing-masing dalam proses produksi.
Kedua, karena kepentingan kelas dan kepentingan buruh berbeda secar objektif bertentngan, mereka juga akan mengambil sikap dasar yang berbeda terhadap perubahan sosial. Kelas pemilik dan kelas atas pasti bersikap konservatif kareana ia berkuasa dan secara hakiki berkepentingan melindungi statusnya, sedangkan kelas buruh akan berrsikap progesif dan revolusioner karena mereka merasa tertindas dan setiap perubahan merupakan kemajuan.
Ketiga, dengan demikian jelas mengapa bagi Marx setiap kemajuan dalam susunan masyarakat hanya dapat tercapai memalui revolusi. Begitu kepentingan kelas bawah yang sudah lama tertidas mendapat angin, kekuasaan kaum penindas mesti dilawan dan digulingkan. Jadi akan mengubah ketergantungan kelas bawah pada kelas atas an itu beratii membongkar kekuasaan kelas atas. Sebaliknya kelas atas tidak mungkin merelakan kekuasaannya dan cenderung mempertahanankan kekuasaan, karena perubahan itu niscaya mengakhiri peranannya sebagai kelas atas. Itulah sebabnya Marx menentang segala usaha damai, karena usaha perdamain hanya akan menguntungkan kelas atas karena mengerem perjuangan kelas bawah.
Negara menurut Marx bukanlah lembaga di atas masyarakat yang mengatur masyarakat tanpa pamrih, melainkan merupakan alat tangan kekuasaan kelas atas untuk mengamankan kekuasaan mereka. Jadi negara tidak netral, sebagaiman ditulis Friedrich Engels: “Negara bertujuan untuk mempertahankan syarat-syarat kehidupan dan kekuasaan kelas berkuasa terhadap kelas yang dikuasai secara paksa”.
Simpulan
Dapat dikatakan bahwa kritik agama Feuerbach menjadi titik tolak seluruh pemikiran Marx kemudian. Marx menulis: “Manusia yang membuat agama bukan agama yang membuat manusia”. Agama adalah perealisaian hakikat manusia di dalam angan-angan, tanda keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Menarik kembali agama ke dalam diri sendiri manusia maka manusia akan menjadii mahluk yang kaya dan sanggup untuk membnagun dunia persaudaraan yang baru.
Keterasingan dalam pekerjaan adalah dasar segala keterasingan manusia, karena menurut Karl Marx, pekerjaan adalah tindakan manusia yang paling dasar: dalam pekerjaan manusia mmbuat dirinya menjadi nyata. Visa pekerjaan itu diperoleh dari Hegel. Dengan kagum Marx menulis: “Yang besar pada ‘fenomenologi’ Hegel ialah bahwa ia memahami hakikat pekerjaan serta mengerti manusia yang objektif, yang benar karena nyata, sebagai hasil pekerjaan sendiri”
Pada permulaan manifesto komunis terapat kalimat yang termashur: “Sejarah semua masyarakat yang ada hingga sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas”. Dengan demikian marx menolak pendapat bahwa orang-orang individual dengan kehendak individual mereka dapat menentukan arah sejarah. Dalam pendapat itu ada terkandung anggapan bahwa individu-individu itu tidak berdiri sendirian di dunia dan bertindak bertindak tidak melulu menurut cita-citanya serta tujuan-tujuan subjektifnya, melainkan bahwa mereka melakukan tindakan menyesuaikan diri dengan peranan yang diharapkan dari golongan mereka.10
III.Daftar Pustaka
Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx. (Jakarta: 2001).
Franz von Magnis, Ringkasan Sejarah Marxisme dan Komunisme. (Jakarta:1997)
Michael H.Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah. 1978. JakartaPusat: PT Dunia Pustaka JayaJones, Pip.
http//media.isnet.org/iptek100/KarlMarx.html/KarlMarx.html
http://filsafat.kompasiana.com/2010/05/02/karl-marx-dengan-segala-pemikirannya
http://nie07independent.wordpress.com/2008/11/18/teori-perubahan-sosial-karl-marx-dan-max-weber/
Tujuan hidup manusia
wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya' budun.
Yang artinya wallahu a'lam bishowab. . ."ALLAH TIDAK MENCIPTAKAN JIN DAN MANUSIA KECUALI UNTUK BERIBADAH.
Itulah tujuan hidup manusia yang sesungguhnya, tapi manusia zaman sekarang hanya memikirkan dunia daripada ibadahnya. Padahal dalam Alqur'an dijelaskan seperti apa yang ayat yang tertulis diatas.!
Ingatkah saudara saat saudara masih kecil, saat saudara masih dalam susuan ibu
Yang artinya wallahu a'lam bishowab. . ."ALLAH TIDAK MENCIPTAKAN JIN DAN MANUSIA KECUALI UNTUK BERIBADAH.
Itulah tujuan hidup manusia yang sesungguhnya, tapi manusia zaman sekarang hanya memikirkan dunia daripada ibadahnya. Padahal dalam Alqur'an dijelaskan seperti apa yang ayat yang tertulis diatas.!
Ingatkah saudara saat saudara masih kecil, saat saudara masih dalam susuan ibu
Langganan:
Postingan (Atom)
Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances